
Gambaran saya tentang seorang putri seperti Cinderella, yang dipersunting pangeran tampan dan hidup bahagia mesra selama-lamanya sampai akhir hayat. Cinderella Snow White dan kawan-kawannya selalu membuat saya iri, tapi memang itu hanya fairy tale, kenyataannya, seperti juga kenyataan hidup lainnya, hidup tidak seindah itu, tidak semudah itu, bahkan untuk seorang putri.
Saya baru aja baca buku Princess, dulu Alia yang bilang ke saya untuk cari buku ini, kebetulan pas kemaren ke Omuniumm Bandung, nemu buku ini, langsung tertarik dengan covernya paras wanita Arab yg sangat cantik, saya membeli buku ini.
Princess adalah kisah nyata putri Sultana dari Kerajaan Arab Saudi, yang seperti hidup dalam sangkar emas, ia memang tidak kekurangan satu materi pun, tapi dalam urusan hak, sama sekali tidak punya kendali. Di Saudi, Ayah, kakak laki-laki dan kelak suami memiliki hak kontrol penuh terhadap seorang perempuan. Perempuan tidak memiliki hak untuk menyatakan pendapat, memberikan opini, akses pendidikan, menyetir mobil, dll dll you just name it…Perempuan diberlakukan hanya sebagai pemuas kehidupan sex pria, dan juga alat melahirkan keturunan. Perempuan berotak cerdas, kutukan bagi dirinya sendiri, karena tidak memiliki hak untuk mengejar ilmu. Cantik juga kutukan, karena begitu mendapat haid pertama, pria tua tambun berumur diatas 50-an akan langsung tertarik meminangnya menjadi istri ketiga, atau keempat.
Jean P.Sasson adalah teman baik putri Sultana, dari pertemanan itulah Jean kemudian menuliskan cerita kehidupan putri Sultana atas permintaan sang putri sebagai cara memohon pertolongan bagi semua yang membaca buku ini, untuk membantu mengatasi sistem yang penuh ketidakadilan di Arab. Baca buku Jean, hati saya jadi ikut penuh dendam kesumat pada para laki-laki Saudi, yang begitu egois, kejam, munafik, sex maniak dan yang paling tidak dimaafkan karena berpikiran sangat picik.Memang tidak semuanya seperti itu, tapi hampir sebagian besar para lelaki Saudi seperti itu.
Putri Sultana adalah salah satu cucu dari Raja King Abdul Azis yang memiliki 300 istri. Ia punya 5 kakak perempuan dan 1 laki-laki, 4 saudaranya yang lain meninggal dalam kandungan. Kakak laki-lakinya ini diberlakukan seperti dewa, terlebih karena satu-satunya anak laki-laki. Bahkan ia diijinkan memukul adik perempuannya kapan ia mau. Pemanjaan itu seperti pembunuhan karakter, mengikis segala sifat baik yang ada padanya, kakak laki-laki putri Sultana itu suka menyiksa para pelayan dan menertawakannya, ia juga menyiksa binatang, mengambil anak anjing kesayangan putri Sultana dan kemudian melemparnya dari mobil.
Ada teman kakaknya putri Sultana, yang sangat memandang rendah perempuan yang buka aurat, dia bilang perempuan seperti itu pelacur, tapi dia menikmati pertunjukan tari perut, ia bilang ingin jadi polisi syariat, tapi besoknya ia perkosa anak perempuan berumur 8 tahun.
Ada anak perempuan yang karena jatuh cinta pada laki-laki bule beragama Kristen, harus menerima hukuman dikurung dalam kandang selama akhir hayatnya. Akhirnya ia menjadi gila didalam kurungan itu. Seorang anak perempuan kecil diperkosa empat orang laki-laki, tapi ia yang harus menerima hukuman mati karena laki-laki tidak pernah bersalah. Ada seorang pelayan Filipina yang bekerja di rumah orang Saudi, ia bekerja tidak hanya melayani urusan dapur, tapi juga melayani nafsu dua orang putra majikannya, bergantian tiap hari ia digilir untuk memuaskan nafsu sex dua laki-laki abege itu. Anak perempuan di Arab harus dikhitan, dikhitan berarti membuang semua bagian luar alat kelamin, dan itu artinya di malam pertama, ia akan menerima sakit yang tak tertahankan dan darah keluar begitu banyak.
Astaga Negeri apa itu? Negara yang memiliki polisi Syariat, dan mengklaim negara Islam, tapi bertindak brutal dan keji pada kaum perempuan, pelayan, budak dan binatang.
Membaca cerita putri Sultana, saya melihat kaum laki-laki disana sangat egois.Sebaik-baiknya mendidik kaum laki-laki, tetap saja lingkungan memberi pengaruh besar pada prilakunya. Seperti suaminya putri Sultana itu yang tampan dan baik hati dan awalnya setia juga penuh cinta kasih pada istri dan keluarganya, dikemudian hari tetap saja tidak bisa menampik godaan ingin punya istri kedua (disana pria Arab berhak punya istri empat) dan ketika istrinya menolak dimadu, ia memilih berhubungan dengan para pelacur yang menyebabkan putri Sultana kena penyakit kelamin.
Mungkin ego laki-laki Saudi itu karena mereka diperlakukan sangat istimewa, menganggap derajat mereka lebih tinggi dari wanita, juga diberi kelimpahan materi yang tidak terhingga, dan wawasan pendidikan yang minim. Mereka sangat menutup diri dari Barat, karena takut Barat mempengaruhi gaya hidup mereka, tapi pada akhirnya mereka jadi menutup diri dari berbagai ilmu, wawasan, pengetahuan, logika dan peradaban. Sementara mereka sendiri tidak berpengetahuan luas terhadap Islam dan juga ilmu lainnya. Mereka menjadi seperti katak dalam tempurung, juga malas menggali ilmu, karena negara sudah sangat kaya. Anak-anak kecil hanya disuruh menghapal doa-doa dan ayat-ayat suci tanpa memahami artinya. AlQuran yang memiliki sejuta makna dan arti, karena kedangkalan pikiran, diterjemahkan secara harfiah.
Seperti perempuan yang dihukum dalam kurungan itu, diterjemahkan harfiah dari Al Quran Surat An Nissa’ ayat 15, perempuan yang melakukan perbuatan keji atas kesaksian 4 orang, harus dikurung dalam hukuman sampai menemui ajal.
Saya tidak paham ayat tersebut, tapi biasanya ayat di dalam Al Quran memiliki konteks yang lebih luas, latar belakang yang luas, sehingga ayat tersebut tidak serta mutlak menjadi dogma dan berkekuatan hukum untuk mengadili seorang perempuan.
Membaca buku itu, membuat saya merasa beruntung menjadi perempuan disini. Setidaknya, kami punya hak setara untuk mendapatkan pendidikan, punya hak untuk mengeluarkan opini, punya hak untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki, punya hak untuk memilih suami, memiliki keistimewaan untuk jatuh cinta pada laki-laki yang kita senangi, dan sejuta hal lain yang benar-benar membuat saya bersyukur tinggal disini.
Yang lain yang terpikirkan, sebaiknya para wanita TKW Indonesia berpikir 1000 kali untuk bekerja disana, memang tidak semua keluarga Saudi memperlakukan pembantu dengan buruk (menganggap pelayan = budak sex, menganggap pelayan = binatang yg tidak punya hati) tapi tetap perlu berhati-hati. Hmm gak tau juga, apa mungkin sudah ada perubahan disana?? Putri Sultana dan temannya menerbitkan buku ini sekitar tahun 92-an. Jadi udah lebih 16 tahun, tapi yang namanya perubahan sosial, bisa berjalan lebih lambat dari waktu.
Semoga sudah berubah.
Yang lain lagi yang terpikirkan oleh saya, Saya jadi tidak setuju kalau misalnya negara Indonesia mau menerapkan syariat Islam. Saya bukannya anti dengan syariat Islamnya, tapi saya khawatir dengan orang-orangnya dan lembaganya. Memahami Islam dan hukum-hukumnya perlu wawasan yang sangat luas, ilmu yang tinggi, pengetahuan mendalam. Tapi ditangan orang yang berpikiran picik, tidak mau menerima perbedaan, arogan dan merasa dirinya paling benar, saya khawatir Al Quran dan Islam bisa menjadi salah kaprah, salah tujuan.
Lihat saja, bagaimana ada sebagian kaum Islam yang mengatasi perbedaan dengan cara kekerasan, merusak, melempari, memukul. Apa dulu pernah nabi Muhammad berlaku seperti itu terhadap orang yang berbeda pendapat darinya? Apa pernah ia dengan penuh kemarahan, angkara murka berteriak-teriak penuh kecaman, kemudian merusak properti dan menghancurkannya?? Rasanya bukan dengan cara seperti itu, rasul kita mengajarkan dan membawa perubahan bagi kaum dengan penuh kelembutan.
Membaca cerita prilaku kaum Saudi, saya jadi ngeh kenapa semua Rasul kita lahir di negara Arab. Karena ternyata prilaku mereka benar-benar barbarian. Saya baca di buku Filsafat Akhlak, Islam turun untuk memperbaiki akhlak umat manusia. Ternyata memang ada kaum manusia yang lebih barbar dari lainnya, keras kepala, munafik dan picik. Benar-benar tantangan yang sangat besar bagi para nabi menghadapi kelakuan para Arab itu, dan sayang hingga saat ini, prilaku sebagian umat itu tak juga berubah, bahkan menggunakan dogma Islam padahal prilakunya sama sekali tidak mencerminkan itu. Putri Sultana di buku itu menjerit putus asa mencari jalan keluarnya, seperti dalam labirin, tidak tahu perubahan itu harus dimulai dari mana dan siapa? Para polisi yang mengatasnamakan syariat itu, malah bisa bertindak lebih keji dari yang lainnya, lingkungan budaya sudah mencengkram kuat.Ketika ada ketidakadilan pada wanita, tidak tau harus mengadu pada siapa, karena semua birokrat dan ulama sama saja,memandang rendah wanita.
Saya jadi ngeh, kenapa dulu rata-rata para nabi kita termasuk nabi besar Muhammad Saw, bertugas menggembala kambing ketika masa kecil. Kambing adalah binatang yg sulit diatur dan keras kepala, jadi bisa menggembala kambing adalah latihan untuk menghadapi manusia-manusia yang lebih keras kepala dari kambing di masa mendatang.
Saat ini, walau di negara saya juga penuh birokrat korup, harga tempe semakin mahal, tapi perempuan masih dihargai. Halangan bagi kaum perempuan untuk maju hanyalah dirinya sendiri, karena negara dan laki-laki disini masih menganggap perempuan setara dengan laki-laki.
Seperti yang ditulis Mizmi dalam review buku ini, kita sulit menghargai berbagai kemudahan, keistimewaan yang kita dapat sampai kita tau kekerasan yang terjadi pada wanita diluar sana. duh Tuhan, terimakasih karena saya tidak terlahir disana.
duh, pedih bngt bacanya ya ka. seorang Putri aja batinnya menderita begitu, gimane yg hidupnya biasa2 aja? mending jadi pelacur sekalian kalo gw mah. mau nidurin gw? bayar!!
Ya ampyuuun dari dulu gw penasaran, sebab di milis sinopsisnya dah beredar, pinjem dunk Ka, hehe.
Sejauh pengamatan gw, banyak keluarga Arab itu agak psycho, sebab pola asuh dalam keluarganya amburadul. Anak dididik dengan kekerasan. Tau dunk, kekerasan pada anak akan menimbulkan trauma, contohnya kayak Hannibal.
Untuk keluarga Arab kaya, mereka mampu nyekolahin anaknya ke UK atau US. Nah, anak produk sekolah di UK dan US ini baiik dan behave. Jadi nggak semua orang Arab anti Barat, malah sebaliknya, mereka banyak mengimpor barang dari UK atau US disini. Contoh: MTV, trus jajanan fast food Amrik, Starbucks, aneka Pizza, barang2 yang dipajang di mall hampir semua merk lisensi dari UK or US. Termasuk bangunan rumah juga banyak yang niru arsitektur amerika.
Untuk kebijakan politiknya, mereka ini konon di drive sama Barat (baca: Amrik). Bahkan, dulu Raja Faisal yang Islam ortodoks itu ditembak mati sama sepupunya yang “Barat”. Sekarang, raja Abdullah yang memimpin, cukup moderat.
Waktu Amrik dulu nyerang Irak, salah satu pangkalannya di Dahran, Provinsi Timur di Saudi. Satu bentuk dukungan Saudi terhadap US. Ada 15 ribu pasukan amrik nongkrong disini, konon beberapa ada yang masuk Islam.
Emang Saudi serba aneh sih, Ka. Mereka seperti ingin lepas dari budaya ortodoks warisan kakek2 (yang doyan kawin itu), tapi mau menjiplak budaya Barat, masih malu2.
Intinya, menurut gw, faktor pendidikan itu yang pualing penting. Terbukti, anak2 Arab yang sekolah lebih baik dari yang nggak. Dan gw suka gemeeess kenapa laki2 yang diprioritaskan untuk sekolah, padahal penting sekaleee bagi perempuan untuk punya ilmu, sebab ia harus mendidik anak. Kalo ibunya bodo, anaknya gimanaaa? Perempuan kan mendidik satu generasi, ya gag?
Aduh panjang ya tulisan gw, banyak cerita tentang Arab, prostitusi di balik cadar mereka, aki2 buaya gepeng, dll.
tar kita cerita2 aja di bdg, okei?
Al: si putri Sultana itu juga masih merasa beruntung karena dia putri, jd masih dpt banyak keuntungan, dan jd perempuan biasa persis seperti bayangan lo, menderita.Memilih jd pelacur? ada temen putri Sultana yang kepikiran kaya lo gitu, mau tau endingnya? dibunuh sama polisi syariat, dan itu atas hasil permintaan pamannya sendiri, kebayang kan, huh….Baca deh bukunya, putri Sultana itu waktu kecilnya usil bandel tukang ngelawan, dia satu2nya anak yang berani ngelawan ayahnya, kaya lo dikit lahh, bandelnya maksud gw hihihihihihih
mei: kayanya udah mulai ada perubahan sekarang ya mei, walau gw yakin memang gak bisa revolusioner. Di buku itu, suaminya putri Sultana juga semi produk barat, tapi pas balik ke Saudi, karena lingkungan seperti itu, dia mau gak mau masih kepengaruh adat budaya Saudi yg kurang ngehargain wanita. Tapi mungkin kl sekarang kaum prianya udah mulai punya itikad murni untuk ngehargain wanita ya…Btw apa kabar putri Sultana ya? siapa dia sebenarnya ya? apa dia masih hidup? gimana kabar anak2nya ya? karena seperti putri Sultana bilang, dia hanya hidup untuk putra putrinya..
lucu aja baca ending tulisan loe, erika… ‘beruntung nggak lahir di sana’
Kalo loe lahirnya jadi laki2 gemana? kan enak tuh, diraja2in …heheheh…
ah, gw sih nggak comment deh soal arab. Di seluruh dunia tiap bangsa juga ada sisi jahiliyahnya. Ya idealnya nggak cuma baca - denger - dikasih tau orang, harus datang-lihat dan tau sendiri seperti apa budaya bangsa lain. Karena gemana2 yang kita tangkap kalau lewat media (entah itu buku yang katanya sahih pun), tetep ada unsur subjektif dan berpihak.
Cewek arab emang terhitung ‘kasihan’ kalo ukuran kita, tapi mereka tega anjrit tuh kalo nyiksa TKI indonesia. Dan mereka jarang berderma untuk negara2 islam seperti tetangganya, Sudan yang jelas2 genocide sampe minta tolong ke Israel karena di negara2 arab kaya malah nggak memandang mereka saudara sesama muslim, jangan itung yang jauh2 pakistan dan indonesia yang langganan kena bencana deh … Kalo cewek arab belanja bisa ngeborong 40.000 dirham sekali masuk toko, itu sekitar 9000 euro… betapa gilanya? kalo mereka mewek2 cuma karena keluarganya gila…. suruh ngaca ama apa yang bisa mereka perbuat untuk orang banyak….. eh, jadi gatel nih gw pengen getok … heheheh…
di dubai cewek UAE malah ‘ngeraja’ karena mereka pasang mahar tinggi banget kalo ada yang mo nikahin dan udah ga peduli kalo ga ada yang mo nikahin juga karena negaranya jauh maju daripada saudi. tiap malem mereka ‘menyamar’dibalik burkha nya, kostum night club dan party sampe pagi….
nyetir sendiri ke mana2 pake mobil segede tank ngebut gila, polisi juga ga berani apa2 sama cewe UAE.
they are beyon fun fearless female deh….. hihihi… versi dunia arab.
pai: baca tulisan lo, kayanya ending tulisan gw mestinya, gw gak laki ato perempuan, beruntung gak lahir diarab sono, hihhhhhh amit2 dehhh. Denger cerita lo, jd inget kata-kata, suami kejam ke istri, istri kejam ke anak, anak kejam ke pembantu, pembantu kejam ke kucing, kucing kejam ke tikus
yah…. dunia emang kejam, erika…. salah satu sebab gw males punya anak… kasian anak gw… (bukan berarti gw nyalahin yang pada punya anak looh.. jgn tersinggung ya!)