Apa yang bisa bikin kita bahagia, apakah uang banyak dan berlimpah? Kalo ya, mengapa ada orang yang memiliki cukup banyak uang, tapi masih tidak merasa bahagia?
Apa pasangan yang bisa bikin seseorang bahagia? Kayanya gak juga, berapa banyak orang yang sudah menikah, masih merasa tidak cukup. Padahal pasangannya bisa dikatakan sudah mapan,good looking, baik hati, dll dll? Lalu kenapa masih kurang puas?
Ternyata memang kebahagiaan atau kepuasan hidup itu membutuhkan harmonisasi 5 hal (seperti yang dikatakan James Arthur Ray ditayangan Oprah waktu membahas buku ‘the secret’). Lima hal itu financial, fisik, relation, spiritual, dan
intelectual.
Itu artinya, kita baru puas setelah kebutuhan uang cukup, kebutuhan primer seperti makanan, pakaian dan rumah sudah terpenuhi, ditambah kebutuhan sekunder dan tersier. Kita juga baru merasa puas bila secara fisik sehat dan memiliki tubuh yang proporsional (cewe baca langsing booo :P). Lalu relation, kita punya pasangan dengan kualitas hubungan yang baik, selain itu hubungan yang harmonis dengan keluarga, sahabat, teman. Keempat, kepuasan spiritual, perasaan kedekatan dengan Tuhan yang membuat kita secara mental kuat, dan terakhir intelektual. Intelektual ini kalo saya lihat, seberapa jauh bakat dan potensi kita tergali dan termanfaatkan.
Saya baru menyadari, ternyata kalau otak manusia tidak digunakan, bisa menimbulkan depresi. Jadi potensi yang kita miliki itu harus diberdayakan, digunakan untuk orang banyak, dan dari situ akan timbullah perasaan kepuasan bagi jiwa/mental/ruh.
Sebenernya ini tulisan buat diri pribadi, karena harus diakui, saya sering merasa kekosongan itu, perasaan kehilangan sesuatu yang membuat saya bertanya. Apa lagi sih Erika? Kamu udah punya pasangan sempurna, persahabatan sempurna, materi cukup, fisik yaa alhamdulillah sehat (better kalau bisa ngurangin beberapa kilo lagi :D), nahhh terus kok suka masih ngerasa kurang?
Jadi ternyata memang harus 5 hal itu tercukupi…Secara spiritual dan intelektual, saya masih belum maksimal. Secara spirit, saya belum terlalu banyak mengenal Tuhan, saya lebih tau gosip Maia dan Dhani daripada mencari tau mengenai Khadijjah sebagai seorang perempuan, seorang istri, seorang businesswoman, seorang ibu. Saya belum tau banyak mengenai agama saya, juga masih belum banyak berkorban untuk Tuhan yang saya sembah. Selain itu, anugrah yang diberikan pada saya, belum diberdayakan semaksimal mungkin, dan hal-hal ini sering membuat saya gelisah.
Saya masih merasakan terus kegelisahan itu. Biasanya saya mengobati kegelisahan itu dengan berenang, lari sekencang-kencangnya, ngeluarin keringat, ngobrol curhat sama teman, rekreasi, minta peluk suami atau minta Arina cium pipi saya atau yang lebih gila belanja kesana kemari ngabisin uang :D. Tapi memang itu tidak mengobati diri dalam jangka panjang. Untuk jangka pendek, itu cukup, pelukan Arina bisa membuat saya hangat, pelukan suami membuat saya penuh cinta kasih, tapi untuk jangka panjang, bila saya belum juga mengobati diri saya secara spiritual dan intelektual, saya akan terus gelisah.Its always become my issue for past 10 years.
So Erika, dig inside deeper and let it outside.If not, it will haunted you for the rest of your lifes.
Wooi Ka, how are you, met tahun baru Hijriyah ya bo! Gw baca blog lo, aduuuh cuupp…cuupp…sini sayaaang, gw juga bisa merasakan kegelisahan lo itu. Secara, kita ini deep down inside sebetulnya desperate untuk bisa eksis di dunia luar (baca: mencapai cita2 yang dulu dicanangkan waktu kuliah, tulll??)
Menanggapi apa yang lo bilang ada di Oprah: Menurut gw, ada kebutuhan dasar manusia yang sifatnya NON fisik, yaitu kebutuhan untuk dihargai. Makanya kan, kata lo, kita bisa depresi kalo potensi kita tidak diberdayakan untuk orang banyak. Trus truuss…kita sebetulnya punya sedikit sisi narsis (entah disadari atau tidak). Makanya kan, kita seneng kalo langsing dan bisa pake baju sexy plus dandanan yang bikin cakep, dikagumi (hayo ngaku). It’s a normal kok!
Btw, jujur ya Ka, gw jaauuuuh lebih tertarik dengan gosip Maia Dhani dan sosialista Indonesia lain;p. Lebih menghibur! Gosip nggak selalu jelek lho say, kan dibalik gosip bisa diambil moral of the story-nya;p. Buku Khadijah mungkin sudah menghuni gudang di rumah nyokap gw di Bandung. Buku itu mungkin sekarang sudah disapu bersih ama pembokat nyokap gw yang doyan bersih2, hehehe.
Sebetulnya yang bikin target intelektual itu kan diri kita sendiri. The problem is, biasanya jadi kabur karena kita terlalu mikirin ‘norma’ umum - harus menikah, punya anak, punya karir, punya rumah, punya ini itu, pernah ini pernah itu.
Tapi buanyaaaak orang yang gw liat daftar di atas udah dapet semua tapi tetep ngerasa kosong karena dia cuma ‘kejar setoran’ untuk dapet muka di depan umum.
Tiap orang punya tugasnya sendiri, dan ga bisa dibandingin atau disamain dengan orang lain, biarpun sodara sekandung, temen sekelas, atau apapun. Urusan perjalanan hidup dan jalan pilihan tiap orang sangat spesifik. Bisa sih nyontek2 tapi resiko ketidakpuasan ditanggung sendiri, bukan?
Temen gw ada yang merasa dirinya nggak ‘cukup lengkap’ karena nggak bekerja di kantor. Tapi sebetulnya apa sih itu? Setelah dia merenung2 dia bilang itu jadi seperti comfort zone aja, tapi tetep merasa bukan puncak dari mimpi yang ingin dia raih. Akhirnya dia beli mesin buat roti, berangkat dari dapur kecilnya dibantu 2 pembantu, dia bikin roti kualitas bagus dan unik, omzetnya makin tambah…. dan jadilah dia businesswoman.
Di bali dia masukin ke hotel2 untuk pastry. Jangan ditanya penghasilan perbulan.
Cerita lain lagi mantan pegawai rendahan di penginapan, dia keluar dan bikin sabun dengan cara alami sederhana. Sama seperti si mbak di atas, dia jualin ke spa dan salon…. berhasil.
Di Solo, pasangan tua nggak suka pensiun mereka mulai jual tusuk sate. Nggak percaya kan kalo ini bisa jadi duit banyak juga?
Itu contoh dari dunia jualan…tapi pasti banyak untuk dunia lain - menulis buku-online learning-belajar musik-belajar bahasa-mungkin belajar ilmu kesehatan seperti reiki - banyak, banyak!
Sekali lagi, jangan mau terjebak dengan norma umum.
Being selfish untuk hal ini sah-sah aja.
Be creative and be happy!
good luck, Erika !
u r one of some talented woman I know. U can do it!
Anyway, kok blog lo jadi kayak klub diskusi Oprah? Yowis, gpp. Hidup Oprah!
stan: whakakak iyaaa stan, dr kemaren gw ngulas ttng oprah terus yaa, secara ibu rumah tangga gitu stan, yaa itu oprah jd tayangan wajib….
palupi: thanks buddy mmmuahh pengen berpelukannn deh

dame: whakkksss pembantu lo, kalo gitu laen kali gw yg nyapu rumah lo aja, kali aja bisa nemu buku bagus laen heheh
Kita merasa puas kalau kita mnyadari masih ada yg lbh tidak puas dari diri kita…
Makanya sebenrnya banyak bersyukur itu kuncinya….dengan bersyukur kita gak akan pernah merasakan tidak puas,sama dgn diri q er..kalau dipikir byk sekali yg buat aq merasa gak puas…tapi aq mensyukuri apa yg kita dapat,jgn terlalu sering liat ke atas booo,sekali-kali kita harus n wajib liat ke bawah…
Maka er kalau kita banyak bersyukur atas apa yg kita dapat,kita gak akan merasa kosong,gelisah,tidak puas akan diri kita sendiri..
contoh gw….hehehehe,gw bersyukur punya badan besar (ihikihikihik pgn jg sih kurus),tapi gw bersyukur ama pemberian tuhan atas tubuhku,msh ada yg membutuhkan aq (anak2 ku,suami q,karyawan q),masih ada yg badanya kurus kering,kalau gemuk khan gak keliatan kita susah,hahahahahaha,jadi orang taunya kita senang dan bahagia.
Itu doa lho…